PATI, LINGKAR – Bermaksud memberikan saran agar pembangunan di Desa Sokopuluhan, Kecamatan Pucakwangi, Kabupaten Pati, Jawa Tengah bisa merata, Ahmad Suyuti (43 tahun) justru mendapat tindakan tidak menyenangkan. Ia mendapatkan satu pukulan di pipi dan dagu bawah. Selain itu, kacamata yang ia kenakan juga dirampas dan dibanting hingga pecah.

Atas kejadian tersebut, Ahmad, warga Desa Sokopuluhan ini kemudian membuat laporan ke Polsek Pucakwangi, Rabu (2/7).

Menurut Ahmad, pemukulan yang terjadi padanya bermula dari dirinya cekcok dengan salah satu perangkat desa Sokopuluhan, Nur Ali Muhtarom alias Lilik.

Ahmad mengkritisi soal jalan yang masih baik, kenapa harus diperbaiki. Sementara jalan yang jelas-jelas rusak masih banyak dan butuh segera diperbaiki.

“Awalnya saya tegur, itu jalan sudah baik kenapa mau diperbaiki. Yang jalan jelas rusak saja masih banyak. Itu namanya mau ngrusak. Wong jalan cor kok mau diaspal,” terangnya Ahmad kepada Koran Lingkar.

Mendengar hal tersebut, terjadilah perang mulut. Ahmad pun didorong Lilik hingga tiga kali. Ahmad pun menantang Lilik, “Kowe nek wani dorong aku pisan neh, kondang kowe.” (Kamu kalau berani mendorongku sekali lagi, hebat kamu).

Menanggapi tantangan tersebut, Lilik pun makin emosi hingga akhirnya terjadi pemukulan ke arah pipi dan dagu Ahmad. Tak cukup sampai di situ, Lilik juga merampas kacamata Ahmad dan membantingnya hingga pecah.

Lilik juga menghidupkan motornya dan hendak menabrak Ahmad. Beruntung Ahmad bisa mengantisipasi tabrakan dengan menendang motor oknum perangkat desa itu.

Setelah itu, Ahmad menuju Balai Desa untuk meminta Rencana Anggaran Biaya (RAB) ke kepala desa Sokopuluhan.

“Saya mau minta RAB pengaspalan jalan tersebut. Di situ ada Kepala Desa, Pak Selamet, dan Pak Amri, namun RAB-nya tidak dikasih. Padahal Pak Amri (Sekdes, red) sudah menyuruh untuk diberikan (RAB), tapi tidak diberikan Kadesnya,” terang Ahmad yang kemudian memutuskan melapor ke Polsek Pucakwangi.

Ia berharap kasusnya bisa ditangani pihak kepolisian dengan sebaik mungkin agar tidak ada perangkat desa yang semenang-menang lagi pada warganya ketika ditanya soal pembangunan yang menggunakan dana aspirasi. Apalagi, menurut Ahmad, proyek pengaspalan jalan yang sudah dicor itu juga dikeluhkan warga. Hanya saja warga tak berani menegur aparat desa. (NAILIN RA – KORAN LINGKAR)

By admin