Meningkat, 9.304 Warga Batang Tercatat Idap Diabetes Melitus

BATANG, Lingkarjateng.id Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batang mencatat kasus diabetes melitus (diabetes tipe) 2 alami peningkatan dari tahun lalu. Hingga akhir September 2023, ada 9.304 warga mengalami diabetes melitus. Sedangkan di bulan yang sama pada tahun sebelumnya, pengidap diabetes melitus tercatat ada 7.838 kasus.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Batang, Didiet Wisnuhardanto mengatakan bahwa, ada beberapa faktor yang menyebabkan meningkatnya kasus diabetes tipe 2 ini seperti risiko kurang berolahraga, diet yang tidak seimbang dan mengkonsumsi gula berlebihan, pola makan yang tidak teratur, serta konsumsi makanan tinggi kalori secara berlebihan.

“Oleh karena itu, upaya yang perlu dilakukan untuk mencegah penyakit diabetes ini adalah menerapkan pola hidup sehat, istirahat cukup dengan tidur 7 jam hingga 8 jam sehari, berpikiran positif, dan kelola stres dengan berekreasi,” kata Didiet Wisnuhardanto.

Selain itu, kata dia, melakukan pengecekan kondisi kesehatan secara rutin seperti cek tekanan darah/tensi, timbang berat badan, ukur lingkar perut, dan cek gula darah.

Didampingi Kepala Seksi Pencegahan Penyakit Tidak Menular dan Kesehatan Jiwa, Aditya Rakhmandanu dikatakan, para penderita diabetes melitus sebaiknya meninggalkan kebiasaan buruk seperti berhenti merokok maupun menghilangkan asap rokok di dalam ruangan.

Ia meminta pengidap diabetes melitus agar membiasakan diri berolahraga minimal 30 menit per hari dalam 3-5 kali per minggu, mengurangi makanan atau minuman yang mengandung kadar gula tinggi atau pemanis buatan, batasi konsumsi gula dengan tidak melebihi 4 sendok makan per orang per hari.

Ia mengatakan, diabetes melitus tipe 2 biasanya muncul karena kombinasi faktor keturunan dan faktor lingkungan. Artinya, faktor keturunan yang dimaksud bukan sekadar peran genetik, melainkan dipengaruhi gaya hidup bersama di dalam keluarga.

Misalnya, pola makan sehari-hari yang tidak teratur, minim akses kesempatan berolahraga karena tempat tinggal jauh dari tempat olahraga, atau tidak ada budaya olahraga di rumah.

“Selain itu, ada juga kaitan antara faktor keturunan dan penyakit diabetes gestasional. Bayi yang lahir dari ibu hamil dengan diabetes gestasional, saat lahir berisiko terkena penyakit diabetes tipe 2, obesitas, dan penyakit jantung,” pungkasnya. (Lingkar Network | Anta – Lingkarjateng.id)