Mbah Urip Desak Pemkab Batang Segera Lakukan Pengerukan Muara Sungai

BATANG, Lingkarjateng.id – Tokoh masyarakat kabupaten sekaligus calon legislatif (caleg) PKB DPRD Provinsi Jawa Tengah asal Kabupaten Batang, Nurhaji Slamet Urip meminta kepada pemerintah daerah setempat dan pemangku kepentingan lainnya untuk segera mengeruk alur muara sungai pelabuhan Batang yang mengalami pendangkalan akibat tumpukan pasir.

“Saya minta agar pemerintah daerah maupun pemangku kepentingan, segera melakukan upaya pengerukan di mulut muara sungai pelabuhan Batang yang dangkal akibat tumpukan pasir laut,” kata Mbah Urip saat melihat kapal kandas di muara sungai pelabuhan Batang.

Ia yang akrab disapa Mbah Urip itu mengatakan, muara sungai pelabuhan Batang tersebut merupakan infrastruktur vital bagi kapal nelayan, baik yang akan melaut maupun pulang melaut dengan ikan hasil tangkapan. Kondisi pendangkalan muara sungai tersebut sudah cukup lama terjadi, namun belum ada yang melakukan pengerukan kecuali sifatnya temporer atau sementara.

Pengerukan Sedimentasi Muara Sungai di Batang Tunggu Kapal Tongkang

“Jadi harus ada upaya solutif di tengah perbaikan kapal tongkang dan alat berat yang digunakan untuk pengerukan muara sungai tersebut,” ujarnya.

Mbah Urip menerangkan, kondisi terparah dirasakan sejak beberapa bulan ini karena kemarau panjang, sehingga para nelayan hanya memanfaatkan air pasang saja akibat berkurangnya debit air. Itu pun tidak bisa diandalkan sebab banyaknya antrean kapal yang keluar masuk menggunakan jalur tersebut sehingga akan sangat berbahaya, belum lagi ketika air sudah surut pasti banyak yang terjebak dan tidak bisa keluar untuk melaut.

Hal itu, lanjutnya, berakibat banyak kapal-kapal nelayan mengalami kandas dan membahayakan keselamatan nelayan karena kapal dapat tenggelam.

“Pendangkalan di muara sungai dan peningkatan sedimentasi sangat parah. Kapal tidak bisa keluar sehingga mengganggu aktivitas perekonomian warga,” terangnya.

Idealnya, lanjut Mbah Urip, Kedalaman sungai pelabuhan Batang yang aman untuk dilewati kapal kurang lebih minimal 2 meter. Hal ini mengingat sungai tersebut merupakan jalur bongkar muat kapal-kapal dengan muatan besar. Sementara untuk saat ini, kedalaman sungai tersebut diperkirakan hanya setengah meter saja.

“Untuk kapal-kapal dengan muatan kecil saja sudah kandas, sehingga para nelayan tidak bisa bongkar muat di pelabuhan atau TPI. Jika berlangsung lama akan berdampak buruk terhadap ratusan kepala keluarga anak buah kapal,” sambungnya.

Untuk itu, Mbah Urip mendesak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batang untuk sesegera mungkin melakukan pengerukan dan normalisasi di muara sungai pelabuhan Batang. Jika tidak segera ditangani, peristiwa ini akan menjadi bencana bagi warga sekitar dan merusak perekonomian.

“Saya harap pemerintah segera membantu. Jika kapal tidak bisa keluar dan melaut, maka para nelayan akan merugi,” harap Mbah Urip. (Lingkar Network | Muslichul Basid – Koran Lingkar)